Asal Nama Desa Taba Padang

“Terima kasih banyak, Bungsu. Sudahlah cantik parasmu, baik pula hatimu. Betapa senangnya hati kami jika kamu tetap tinggal di sini. Tak usahlah pindah ke pulau seberang. Siapa lagi yang nanti akan membantu kami memperbaiki peralatan kami yang rusak jika kamu tidak lagi ada di sini,” penuh haru ucapan masyarakat Desa Kadupandak, Banten.
“Tidak bisa, Bi, Mang, aku harus mengikuti kakak-kakakku ke pulau seberang. Tidak ada lagi keluarga kami di sini. Abah dan Emak sudah meninggal. Kami bertujuh harus memulai hidup baru di pulau seberang,” jawab Bungsu kepada mereka.
“Anggaplah kami keluarga kalian. Tidak akan kurang hidup kalian jika kalian tetap tinggal di sini. Kita akan selalu saling membantu seperti kita hidup biasanya,” balas seorang laki-laki tua.
“Biarlah, Mang, ikhlaskanlah kami pergi,” jawab Bungsu saat meninggalkan kerumunan masyarakat sambil menyeka air matanya.

“Jadi, kapan kalian akan berangkat ke pulau seberang?” tanya sang laki-laki tua, berharap agar masih ada waktu yang lebih lama bagi mereka untuk bersama Bungsu yang mereka sayangi.
“Besok subuh kami berangkat, Mang. Doakan kami, ya, Mang,” jawab Bungsu.
Bungsu pun berlalu dari hadapan masyarakat yang baru saja ia pamiti. Masih terbayang olehnya rasa sedih dari tetangga-tetangga yang tidak lama lagi ia tinggalkan. Tak terbayang pula rasa sedih yang ia rasakan karena membayangkan harus pindah ke tempat yang baru dan sama sekali asing baginya. Hanya akan ada ia dan keenam saudara laki-lakinya yang sangat ia sayangi.

Selengkapnya: Asal Nama Desa Taba Padang