Cerita Air Tukang

Pemuda Sederhana di Desa Seribu Tangga

“Selamat pagi, semua,” sapa seorang pria sederhana bertubuh tegap, berkulit gelap dengan rambut hitam berikal. “Selamat pagi, Obeth,” jawab beberapa ibu yang duduk bersama anak-anak kecil di depan beranda rumah mereka yang saling berdekatan. Salam yang sama juga disampaikan oleh beberapa ibu yang sedang menjemur pala, salah satu kekayaan alam di Maluku, di sepanjang jalan di desa kecil, di bibir pantai Pulau Saparua.
Desa yang sangat sejuk karena pepohonan rindang menaungi setiap lekak-lekuknya. Desa yang hanya bisa dijejaki dengan sederet trap-trap yang memisahkan antara rumah-rumah yang ada di sisi kanan dan kiri tangga sekaligus merapikan tatanan lingkungannya, karena itulah negeri ini dijuluki “Negeri Seribu Tangga”. Negeri yang juga terlihat memesona dari ketinggian karena bentuknya yang menyerupai bentuk segitiga sama sisi. Keindahannya menarik perhatian banyak orang dan menggoda para pengunjung untuk menatap dan menikmati keasriannya. Pengunjung negeri ini bukan hanya manusia biasa, melainkan juga para putri dari kayangan. Kedatangan mereka tak terduga waktunya dan tak diketahui oleh siapa pun.

Obeth, sapaan sehari-hari untuk pria dengan sejuta senyum. Nama lengkapnya adalah Roberth Soumokil. Jojaro2 tampan, hidung mancung dengan wajah oval, wajah khas orang Maluku. Namun, ketampanannya tidak membuat Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Pria yang sangat bersahaja ini telah menghabiskan hampir separuh hidupnya dalam kesendirian. Ibunya meninggal ketika melahirkannya dan ketika dia beranjak remaja, ayahnya juga dipanggil Tuhan untuk selamanya.
Tanpa adik, tanpa sosok seorang kakak, Obeth tumbuh menjadi jejaka yang sangat mandiri. Kepribadiannya dibentuk di
dalam keluarga kakek dan neneknya. Merekalah sosok ibu, bapak, kakak, dan adik bagi Obeth. Hingga akhirnya mereka pun meninggal dunia. Ketika itu usia Obeth sudah matang untuk hidup sendiri.
Namun, sangat disayangkan, hingga ia mencapai umur tiga puluh lima tahun, dia belum juga memiliki seorang istri. Padahal, pemuda dengan umur seperti itu, belum menikah, dan juga belum memiliki anak adalah aib di negeri Booi. Tepatnya, dia akan menjadi bahan cibiran para ibu dan temannya di negeri Booi dan itulah yang dialaminya. Dia selalu ditanyai kapan akan menikah. Bahkan, para ibu ada yang melarang anak-anak mereka bergaul dengan Obeth karena takut anak-anak mereka juga akan seperti Obeth.
Awalnya pria berambut ikal ini merasa terasing dan malu untuk bertemu juga menyapa orang-orang di desanya. Namun, lama-kelamaan dia terbiasa dengan semua cibiran orang. Dia juga berusaha untuk membuktikan kepada semua orang bahwa dia layak memiliki istri yang cantik dan baik karena dia adalah pria yang ideal dan seorang pekerja keras.

Selengkapnya: Cerita Air Tukang