Cerita Ara-Ara Kesanga

Pengembaraan Aji Saka

Pada zaman dahulu ada seorang pemuda bernama Aji Saka. Ia diceritakan sebagai seorang kesatria yang baik hati, suka menolong, dan sakti mandraguna. Sebagaimana lazimnya seorang kesatria, Aji Saka memiliki dua orang punggawa yang sangat patuh pada perintahnya. Dua orang punggawa ini bernama Dora dan Sembada. Mereka selalu setia menemani ke mana saja Aji Saka pergi, kebetulan Aji Saka memiliki kegemaran mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Dora dan Sembada! Aku memang memiliki kegemaran untuk bertualang. Aku tidak tahan kalau harus terusmenerus
menetap di suatu tempat. Oleh karena itu, aku menyerahkan keputusan kepada kalian berdua, apakah kalian akan selalu menemaniku atau aku akan melakukan perjalanan seorang diri?” tanya Aji Saka pada suatu pagi.
“Tuanku Aji Saka, hamba telah menjadi pengawal baginda sejak baginda masih kecil. Tak sampai hati rasanya
apabila hamba membiarkan Baginda seorang diri melakukan perjalanan. Hamba memutuskan untuk terus mengikuti
Baginda, bukan begitu kakanda Dora?” tanya Sembada kepada Dora ketika menanggapi pertanyaan Aji Saka.
“Betul Tuanku Aji Saka. Hamba dan Sembada akan selalu setia menemani pengembaraan Tuanku,” jawab Dora mantap.
“Baiklah kalau begitu, aku sangat senang apabila kalian berdua mau menemaniku, semoga kita mendapatkan pelajaran dari pengembaraan ini,” kata Aji Saka.

Di setiap pengembaraannya Aji Saka selalu menemukan sesuatu yang berguna bagi kehidupannya, dan karena memiliki sifat yang mulia, Aji Saka selalu diterima oleh masyarakat di setiap tempat yang dikunjunginya. Di tempat persinggahannya, Aji Saka yang ditemani oleh Dora dan Sembada, membantu pekerjaan masyarakat yang membutuhkan bantuan. Mereka bahu-membahu membantu warga yang sedang kesusahan, tak jarang ketiga orang itu tinggal di sebuah desa untuk waktu yang lama guna menyelesaikan permasalahan yang dihadapi warga desa.

Kedua punggawa itu memang selalu setia menemani Aji Saka dalam setiap pengembaraannya. Mereka tidak mau meninggalkan Aji Saka karena kedua punggawa itu juga memiliki rasa iba terhadap sesama. Pada suatu hari, ketika mereka sedang berada di suatu perjalanan, Sembada mengajukan permintaan untuk tidak mengikuti pengembaraan Aji Saka karena Sembada ingin pergi ke Pulau Majeti. Sembada mengetahui mengenai Pulau Majeti tersebut dari seorang warga ketika ia bermukim untuk sementara waktu. Warga tersebut memberikan informasi bahwa di Pulau Majeti ada sebuah tempat yang sangat sesuai untuk berdiam diri, memohon ketenteraman batin kepada Tuhan Sang Pencipta alam semesta.

Selengkapnya: Cerita Ara-ara Kesanga

Cerita Ara-ara Kesanga