Kaca Ajaib Warisan Atok

Rumah Bahagia

Di sebuah rumah yang sangat sederhana tinggallah keluarga kecil Zainudin. Zainudin adalah anak SD kelas 6 yang berumur 12 tahun. Di rumah sederhananya itu Zainudin tinggal bersama atok, emak, dan dua adik kembarnya Rifki dan Aisyah. Mereka berumur 8 tahun. Ayah Zainudin sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, emak berjualan berbagaimacam jenis kue. Zainudin selalu membantu apa saja yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban emaknya. Zainudin memang anak yang rajin. Rajin membantu emaknya, rajin belajar, dan rajin beribadah.
Zainudin sedang asyik membantu emak membuat kue di dapur. Selain kue, emak juga membuat nasi lemak dan lakse goreng yang akan dijajakan oleh Zainudin dan adik-adiknya di sekolah. Dengan saling membantu dan
bergotong-royong seperti itu, beban keluarga mereka terasa ringan. Sementara itu, kedua adiknya sedang asyik bermain congkak di teras depan. Tiba-tiba terdengar suara gaduh. Kedua adiknya sedang berselisih paham.
“Ada apa ini. Mengapa kalian bertengkar?”
“Rifki itu curang, Bang, pantas saja dari tadi dia menang terus,” kata Aisyah hampir menangis.
“Tidak Bang, Aisyah itu menuduh sembarangan. Apa buktinya kalau saya curang,” jawab Rifki tidak mau kalah.
“Ada apa ini. Memangnya apa yang terjadi?” Zainudin mencoba meleraikan kedua adiknya.
“Dari tadi kami bermain congkak dan
Rifki selalu menang. Saya selalu kalah. Ternyata diam-diam dia curang dengan menyembunyikan buah congkak di tangannya. Pantas saja dia selalu menang,”sungut Aisyah.
“Rifki, apa benar kata Aisyah itu,” kata Atok tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.


“Iya, Tok, tetapi hanya beberapa kali saja saya curang.” jelas Rifki sambil menunduk.
“Rifki, curang itu sama dengan tidak jujur. Perbuatan tidak jujur adalah perbuatan yang tidak terpuji dan merugikan orang lain. Orang yang tidak jujur tidak akan disukai. Lagipula perbuatan tidak jujur itu dosa. Sekarang ini malaikat sudah mencatat perbuatan Rifki tersebut. Apa Rifki tidak takut?” tanya Atok.
“Kan, bohongnya cuma saat bermain saja, Tok, yang lainnya saya tidak berani.” jawab Rifki.

Selengkapnya: KACA AJAIB WARISAN ATOK