Legenda Putri Cermin Cina

Dahulu kala, di negeri Jambi —tepatnya di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari sekarang— terdapat
sebuah kerajaan yang berada di tepi Sungai Batanghari. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama
Sultan Mambang Matahari. Beliau dikenal sebagai seorang raja yang gagah, berwibawa, adil, dan
bijaksana. Kearifannya dalam memimpin kerajaan membuat Sultan Mambang Matahari sangat dicintai
oleh rakyatnya. Seluruh rakyat hidup bahagia, saling menyayangi, dan tolong-menolong. Rakyat di kerajaan
itu hidup sejahtera dari hasil bertani, berkebun, dan beternak.
Sultan Mambang Matahari selalu berpikir tentang kepentingan rakyatnya. Ia menjadi tempat bertanya
bagi seluruh lapisan masyarakat. Pintu istananya selalu terbuka lebar bagi siapa saja yang datang untuk
meminta nasihatnya, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, besar atau kecil. Setiap orang yang datang kepadanya akan pulang dengan puas karena telah beroleh jalan keluar untuk masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan, jika seluruh rakyat di kerajaan yang dipimpinnya hidup dengan
penuh kedamaian.
Sultan Mambang Matahari dikarunia seorang putra dan seorang putri yang beranjak dewasa. Putranya
bernama Tuan Muda Selat. Tuan Muda Selat mewarisi kerupawanan dan kerendahhatian ayahnya. Ia ramah
dan tidak pandang bulu dalam bergaul sehingga ia memiliki banyak teman.
Sayangnya, tidak semua sifat baik ayahnya menurun kepada Tuan Muda Selat. Tuan Muda Selat seorang yang ceroboh. Ia sering tidak berhati-hati dalam bertindak.
Putri Sultan Mambang Matahari, adik Tuan Muda Selat, bernama Putri Cermin Cina. Ia seorang gadis
berparas jelita. Kulitnya putih bak pualam Cina. Rambutnya legam bak mayang mengurai. Pipinya elok
bak pauh dilayang. Matanya cemerlang seperti bintang timur dengan alis mata bak semut beriring. Semua orang
yang melihatnya akan berdecak kagum dengan keelokan parasnya. Bibirnya yang seperti delima merekah selalu
tersenyum kepada siapa saja yang dijumpainya.
Keindahan rupa Putri Cermin Cina makin sempurna dengan kehalusan budi pekertinya dan kesantunan
tutur katanya. Ia berbeda dengan kakaknya yang ceroboh. Putri Cermin Cina merupakan seorang yang
sangat cermat dalam bertindak. Ia rajin dan terampil dalam melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga,
seperti memasak, menenun, membatik, merajut, menyulam, dan menata ruangan yang ada di istana.
Semua pekerjaan itu dilakukannya dengan telaten dan senang hati.
Pada suatu pagi, ketika Sultan Mambang Matahari dan anak-anaknya sedang bercengkerama di taman
istana yang asri, tiba-tiba datang seorang hulubalang menemui mereka.
“Mohon maaf, Paduka. Ada kabar penting yang ingin hamba sampaikan kepada Paduka,” kata hulubalang tersebut dengan takzim.
“Ada baiknya kabar itu disampaikan di dalam saja. Mari kita naik ke istana,” ajak Sultan Mambang Matahari.
Setibanya di dalam istana, Sultan Mambang Matahari segera duduk di singgasananya. Tuan Muda Selat dan Putri Cermin Cina mendampingi ayah mereka di kiri dan kanan singgasana.

“Kabar penting apa gerangan yang kau bawa, Hulubalang?” tanya Sultan Mambang Matahari.
“Tersiar kabar bahwa dalam waktu dekat akan ada seorang saudagar kaya beserta anak buahnya yang akan datang kemari untuk berdagang, Paduka,” jawab hulubalang itu.
“Dari mana saudagar itu berasal?” tanya Sultan Mambang Matahari lagi.
“Ampun, Paduka. Hamba belum tahu pasti asal negerinya, tetapi banyak yang mengatakan ia datang dari negeri yang jauh.”
“Apa sebelumnya saudagar itu pernah kemari?” Sultan Mambang Matahari kembali bertanya.
“Sekiranya ia pernah kemari, kita pasti mengenalnya. Sudah banyak saudagar kaya yang datang ke kerajaan
kita. Bahkan tidak sedikit pula yang kembali datang untuk meningkatkan kerja sama dengan kita.”
“Saudagar itu belum pernah datang kemari, Paduka,” jawab hulubalang itu lagi.
Selengkapnya: Legenda Putri Cermin Cina