Mia Bungsu dan Nek Imok

Nyanyian Ajaib

Alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang perempuan miskin dengan dua orang anaknya. Hidup mereka sangat sulit. Malangnya, suami dari perempuan miskin ini sudah lama meninggal. Suaminya meninggal akibat digigit ular berbisa.
Ia membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang tulus. Ibu itu sangat perhatian kepada kedua anaknya. Anak tertuanya seorang lelaki bernama Koling. Adik Koling seorang perempuan bernama Mia Bungsu.

Ketika ayahnya meninggal, Koling sangat bersedih. Koling sangat dekat dengan sang ayah. Koling terbiasa bermain-main dengan ayahnya. Ia biasa diajak ayahnya pergi ke hutan untuk berburu. Mereka juga biasa mandi dan menangkap ikan bersama di sungai. Lain ceritanya dengan Mia Bungsu, adiknya. Ia tidak pernah mengenal sosok ayahnya. Ia tidak tahu bagaimana rupa dan suara ayahnya. Ia tahu ayahnya meninggal saat ibunya mengandung dirinya.

Ibunya bercerita kepada Mia Bungsu bahwa ia masih dalam kandungan ketika ayahnya meninggal. Padahal, ayahnya sangat mendambakan anak perempuan. Malahan, sang ayah sudah menyiapkan nama Mia jika anaknya lahir sebagai perempuan.
Ibunya sedih ketika melahirkan anak perempuannya ini. Sedih karena melahirkan anak tanpa ayah yang akan menyayanginya. Oleh sebab itu, ketika lahir sang ibu memberi nama Mia sesuai dengan keinginan suaminya.
Namun, oleh ibunya ditambah dengan nama Bungsu. Jadilah nama lengkapnya Mia Bungsu. Dinamakan Bungsu karena ia lahir sebagai anak bungsu dalam keluarga.
Suatu hari mereka sekeluarga kehabisan makanan. Mereka kelaparan. Ibunya sangat bingung dan sedih memikirkan nasib mereka. Ia memikirkan bagaimana anak-anaknya bisa makan. Si ibu semakin sedih ketika melihat anaknya Koling
dan Mia Bungsu menangis-nangis meminta makan. Mereka memegang-megang perutnya menahan perih.

“Anak-anakku, sabar ya,” kata si ibu.
“Aku lapar, Bu,” kata Mia Bungsu.
“Perutku perih, Bu. Lapar,” kata Koling.
“Ya, Ibu tahu, sebentar lagi kita dapat makanan,” kata si ibu berusaha menyenangkan hati anaknya.
Si ibu terus berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa makan. Terlintas dalam pikirannya si ibu akan mengemis saja. Namun, ia masih berpikir mengemis itu tidak baik. Mengemis itu bertentangan dengan hati nuraninya.
Tiba-tiba si ibu mendapatkan akal. Ia akan menanam padi di hutan. Ia tidak boleh meminta-minta dan mengemis. Bekerja dengan keras lebih baik daripada mengemis kata si ibu kepada dirinya sendiri.
“Aku harus bekerja keras, tidak boleh memintaminta,” seru si ibu berbicara sendiri.
Si ibu berpikir tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Artinya, memberi atau bersedekah lebih baik daripada meminta-minta. Ia kemudian menemui anak-anaknya. Ia menenangkan hati Koling dan Mia Bungsu. Ia ingin
anak-anaknya tidak menangis lagi. Ia akan mencari makanan untuk mereka.
Selengkapnya: Mia Bungsu dan Nek Imok