Raja Madura yang Perkasa dan Bijaksana

Putri Agung Pergi Bertapa

Di Kerajaan Medangkamulan yang makmur dan tenteram hiduplah seorang putri nan cantik rupawan. Ia bernama Putri Agung. Selain sifatnya yang baik dan suka menolong, Putri Agung sangat patuh kepada kedua orang tuanya. Tidak heran jika sang Raja begitu menyayangi putrinya tersebut. Kecantikannya yang tiada tanding mampu memikat siapa pun yang memandangnya.

Suatu ketika, Putri Agung mendengar bahwa rakyat Medangkamulan sedang mendapat musibah. Rakyat diserang wabah penyakit. Sekujur tubuh si sakit dipenuhi dengan bentol-bentol berisi nanah layaknya penyakit cacar air. Kulitnya melepuh seperti luka bakar. Selain menyebabkan gatal dan panas, penyakit tersebut juga menular. Tidak hanya orang dewasa, penyakit itu juga menyerang balita.

Berbagai jenis ramuan dan obat-obatan dari tabib kerajaan sudah diberikan, tetapi penyakit tersebut tak kunjung sirna. Justru jumlah penderita makin hari kian bertambah. Sampai pada akhirnya banyak rakyat Medangkamulan, khususnya anak-anak meninggal dunia.

Ketika melihat kondisi yang kian memburuk, Sang Putri merasa iba. Tak terasa air mata membasahi pipinya yang lembut. Hati sang Putri seperti disayat-sayat sembilu. Ia turut merasakan kepedihan rakyat Medangkamulan.


“Bagaimana ini semua bisa terjadi? Apa yang harus aku lakukan?” ucap Sang Putri dengan perasaan sedih.
“Sabarlah, Tuan Putri, pasti akan ada jalan keluarnya. Kita pasrahkan ini semua kepada Sang Pencipta,” sahut Inang yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri oleh Putri Agung.
“Tetapi, aku tidak bisa melihat rakyatku menderita seperti ini. Semua tabib ternyata tak mampu menyembuhkan mereka. Aku harus bagaimana?” ucap sang Putri bingung.
“Aku harus melakukan sesuatu. Ini tidak boleh terus terjadi,” tegas sang Putri.

Keadaan yang dialami oleh rakyat Medangkamulan benar-benar membuat sang Putri merasa terpukul. Setiap menyaksikan rakyat dalam kondisi mengenaskan, sang Putri pun menangis. Kesedihan yang mendalam membuatnya berpikir ia harus melakukan sesuatu. Saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan mengasingkan diri, sang Putri berharap bisa lebih khusyuk berdoa untuk memohon petunjuk agar rakyat Medangkamulan diberi kesembuhan, ketenteraman, dan dijauhkan dari segala musibah. Dengan tekad yang kuat, sang Putri memutuskan untuk bertapa.

Selengkapnya: Raja Madura yang Perkasa dan Bijakasana