Saya dan Mereka

Sebelum PAUD Hosana saya pimpin, saya dan mereka sudah terbiasa hidup akrab. Saya anggap mereka keluarga tersayang di NTT.
Namun satu waktu, saya pernah kecewa. Pernah saya ajak para orang tua membuat pagar di kebun tapi yang datang hanya dua orang.

Saya kemudian berpikir, “Apakah mereka sudah bosan dengan kepemimpinan saya? Apakah saya pernah menyakiti mereka?”
Sakit memang kalau kita dicuekin orang-orang yang kita sayang, terlebih sudah kita anggap seperti keluarga sendiri.

Hingga pada hari Minggu di Gereja, seperti biasa pendeta memberi saya kesempatan untuk menyampaikan informasi apa saja. Dengan air mata, saya hanya mampu berkata begini,
“Kali ini saya hanya menyampaikan kepada semua agar mencari seorang untuk memimpin PAUD Hosan. Saya melihat sudah tidak ada lagi orang yang mendukung saya. Terbukti pagar kebun dan tanda permainan anak sudah tiga bulan direncanakan tapi belum juga dikerjakan. Terima kasih.”
Saya merasa lega karena isi hati saya sudah tersampaikan saat itu. Pada hari itu juga jam 12 siang, saya dengan guru-guru dari lembaga lain bersama mentor mengadakan rapat klaster di PAUD Hosana. Saat rapat belum dimulai, satu per satu orang tua mulai berdatangan.

Selengkapnya: Saya dan Mereka