Siapkan Generasi Emas Indonesia 2045 dengan Gerakan Literasi Nasional

Jakarta, Kemendikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengadakan seminar bertema “Gerakan Literasi Nasional” yang membahas tentang Generasi Emas Indonesia 2045. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Dadang Sunendar menjadi narasumber utama dalam seminar bertema literasi ini. Seminar berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC), pada Rabu (26/9/2018).

Salah satu hal yang dibahas dalam seminar tentang “Gerakan Literasi Nasional” ini adalah Program Prioritas Badan Bahasa di tahun 2018. Beberapa program yang dibahas pada seminar ini antara lain Pengayaan Kosakata Bahasa Indonesia, Pengiriman Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Pengutamaan Bahasa Indonesia di Ruang Publik, Peningkatan Kemampuan Pendidik Bahasa Indonesia, Konservasi dan Revitalisasi Bahasa Daerah, Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), Layanan Perpustakaan, dan Kongres Bahasa Indonesia XI.

Kepala Badan Bahasa Dadang Sunendar mengatakan ada tiga inti dari literasi. “Literasi itu intinya hanya ada tiga; pertama literasi keluarga, kedua literasi sekolah, dan ketiga literasi masyarakat. Yang paling penting adalah literasi keluarga. Ketika literasi keluarganya sudah kuat, saya yakin yang lain tidak ada persoalan lagi,” ujarnya.

Dadang memberikan contoh dari penerapan literasi keluarga yang dimulai dari sikap keteladanan. “Bagaimana caranya? Misalnya, ‘Nak, kamu jangan merokok’. Tapi bapaknya sendiri merokok di rumah. Hal demikian tidak akan terjadi. Demikian juga sebaliknya, jika bapak ibunya ingin membaca, maka anaknya akan mengikuti dengan membaca. Jadi soal keteladanan itu penting,” tutur Dadang.

Ia menuturkan, tujuan Gerakan Literasi Nasional ini untuk membangun budaya literasi dan menyiapkan generasi emas Indonesia 2045. Gerakan Literasi Nasional juga berujuan menguatkan pendidikan karakter sebagai ruh dan fondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik). “Juga merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan, melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental atau GNRM,” tutur Dadang. (Daniel Gunawan/Desliana Maulipaksi).

Sumber: https://www.kemdikbud.go.id