Berlibur ke Timur

Di Bumi Tosagena

Gerbang kecamatan sudah tampak, tinggi menjulang dengan ucapan “Selamat Datang di Bumi Tosagena”. Irman menarik napas panjang, merasa lelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Jakarta ke Makassar dan sekitar empat jam dari Makassar ke kampung ayahnya, yaitu Belawa, salah satu kecamatan di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan.
Di balik kelelahannya, sejujurnya Irman beberapa kali tidak bisa berhenti berdecak kagum melihat hamparan sawah yang baru saja panen ketika mobil melaju. Untuk pertama kalinya, ia melihat langsung pemandangan demikian. Selama ini, ia hanya memandanginya lewat layar televisi atau buku-buku.
Sesekali dihirupnya dalam-dalam udara bersih agar bisa melupakan rasa dongkolnya beberapa saat. Ia membayangkan selama sepekan ke depan akan melewatkan liburan yang membosankan. Semakin mendekati kampung ayahnya, semakin ia cemas. Ia tidak melihat bangunan-bangunan mewah, hanya ada hamparan sawah dan kebun, serta rumah panggung yang modelnya nyaris sama semua. Bagaimana jika ia ingin menonton di bioskop? Apakah di kampung Ayah ada makanan enak? Ada tempat belanja asyik? Ada tempat bermain seru?
“Nah, kita disambut dengan istimewa. Kau perhatikan gerbang itu,” suara Pak Andi membuyarkan lamunannya.
“Bukankah tadi kita telah melewati empat gerbang yang lebih besar, Ayah? Itu lebih istimewa,” sahutnya tanpa semangat.
“Benar, Irman. Tapi, gerbang ini memberikan semangat kepada tamunya. Karena di gerbang itu tertulis nama lain kampung Ayah, yaitu Bumi Tosagena. Maknanya sangat dalam.”
“Apa artinya, Ayah?” penjelasan ayahnya telah berhasil memancing rasa ingin tahunya. Irman memang tergolong anak yang cerdas, senang membaca, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.


Selengkapnya: Berlibur ke Timur