Geber Liga 1819 (Gerakan Bersama Literasi Keluarga Pukul 18.00 – 19.00)

SAHABAT KELUARGA – Anda berkeluarga? Keluarga adalah rumah pendidikan pertama anak. Disadari atau tidak memang begitulah adanya. Ini karena ia merupakan kelompok masyarakat terkecil. Mulai dari seorang ayah sebagai kepala keluarga, ibu, dan anak-anak mereka. Transformasi pengetahuan, sikap, dan pengalaman hidup datangnya dari keluarga. Anggota keluarga adalah organisme hidup. Mereka manusia utuh, memiliki jiwa, hati, akal, pikiran, keinginan, kecenderungan, harapan, dan juga berbagai kebiasaan yang selalu berkembang. Dari waktu ke waktu, hari ke hari, selalu ada yang baru pada diri kita dan anggota kelaurga kita. (Cahyadi:2012).

Fungsi keluarga mengantar keberhasilan putra-putrinya. Banyak fakta yang menyatakan bahwa dukungan keluarga membawa kesuksesan bagi anggotanya. Walaupun ada pula fakta yang menyebutkan tanpa dukungan keluarga seseorang bisa sukses. Namun itu minor. Keluarga mempunyai peran sangat vital pada kesuksesan hidup. Dari keluarga yang kuat, maka suatu daerah, bahkan negara juga akan menjadi kuat. Keluarga adalah soko guru bangsa. Keluarga yang mampu menghadirkan kekuatan inilah yang mampu memberikan fungsi positif kesuksesan.

Karena itulah budaya literasi harus dimulai dari keluarga. Seseorang bertindak atas dasar pengetahuan yang dimilikinya. Pun begitu pula bagi sebuah keluarga. Cerminan anggota keluarga di masyarakat adalah dari cerminan di dalam keluarganya. Salah satu untuk membangun pengetahuan dan sikap manusia adalah literasi. Jika ingin bangsa ini sukses, maka setiap keluarga harus memiliki budaya literasi ini. Dari literasi ini akan lahir pribadi-pribadi mandiri dari setiap anggota keluarga ketika mereka berada di lingkungannya. Sekolah salah satunya.

Berikut beberapa langkah konkret untuk mewujudkan budaya literasi keluarga. Ini dimanifestasikan dalam sebuah gerakan literasi keluarga 1819. Sebuah gagasan yang kiranya dapat dilakukan setiap keluarga.

Matikan gawai dan televisi pada pukul 18.00-19.00.
Tidak bisa dibantah bahwa gawai hari ini menjadi urat nadi kehidupan. Tidak jarang itu melunturkan nilai-nilai sosial di sekitar kita. Penulis berpendapat bahwa gawai sekarang ini dapat mengambil alih kebersamaan. Pun itu dalam keluarga. Ketika seorang anggota keluarga asik dengan gawainya tanpa ia sadari menafikan kebersamaan dalam keluarga. Maka untuk memulai sebuah gerakan literasi keluarga ia harus di matikan beberapa saat.

Tawaran solusi penonaktifan gawai dalam keluarga adalah dari pukul 18.00-19.00. Kenapa mesti di waktu ini? Karena ini adalah prime time. Waktu paling berkualitas dalam keluarga. Ketika pada pagi dan siang hari para anggota keluarga beraktivitas dalam kegiatannya masing-masing. Pada waktu ini adalah waktu senggang setelah anggota keluarga. Jangan diganggu oleh gawai. Jika ingin memulai gerakan literasi keluarga (Geliga). Pun begitu pula dengan televisi. Media ini mempunyai porsi yang sama dengan gawai. Wajib off pada pukul 18.00–19.00.

Membaca bersama sebagai sebuah kebiasaan.
Lantas apa sesudah gawai dan TV off? Ia harus diisi dengan aktivitas positif keluarga. Membaca adalah salah satunya. Setiap anggota keluarga mesti memegang komitmen ini. Seyogyanya disepakati pada saat membuat komitmen bersama antar anggota keluarga. Topik apa saja dapat dibaca oleh seluruh anggota keluarga. Karena setiap anggota keluarga mempunyai kecenderungan, maka untuk pertama kali topik dapat dibebaskan. Topik-topik yang bisa dibawa dalam budaya membaca keluarga, di antaranya agama, pendidikan, psikologi, dongeng, cerita rakyat, politik, keluarga dan sebagainya.

Sumber baca tidak harus selalu buku. Bahan bacaan berupa koran, pamflet atau brosur kegiatan di sekitar keluarga dapat dimanfaatkan. Paling tidak akan melahirkan sebuah atau beberapa pertanyaan setelah budaya membaca ini menjadi kebiasaan dalam sebuah keluarga. Buku teks pelajaran pun juga tidak masalah untuk dijadikan bahan bacaan.

Membangun budaya diskusi dalam anggota keluarga.
Ketika budaya membaca sebagai sebuah gerakan literasi dalam keluarga sudah menjadi kebiasaan. Akan ada beberapa pengetahuan akan tertanam dalam ranah kognitif antar anggota keluarga.
Pengetahuan yang didapat dari hasil kebiasaan membaca dalam sebuah keluarga pada 1 jam 18.00-19.00 akan saling mengisi dan melengkapi. Bukan tidak mungkin pengetahuan yang baru didapat berkonfrontasi dengan pengetahuan sebelumnya.
Berkenaan dengan itu maka budaya diskusi dalam keluarga harus dibangun setelah budaya membaca. Dalam diskusi keluarga diperlukan sosok pemimpin diskusi yang bijaksana. Peran ini dapat diambil oleh seorang ayah sebagai kepala keluarga. Diskusi dapat dilakukan dalam skala informal. Kehangatan dalam diskusi menjadi sangat penting sebagai bukti kebersamaan dalam keluarga.

Membuat tata tertib yang disepakati bersama.
Untuk mewujudkan sebuah budaya literasi keluarga sebagai sebuah gerakan. Ini memerlukan komitmen yang sungguh-sungguh antar anggota keluarga. Sebuah program atau kegiatan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya komitmen komponen-komponen yang ada di dalamnya yakni anggota keluarga.

Gerakan Literasi Keluarga dari lingkungan keluarga terkecil.
Ketika sebuah keluarga telah berhasil menerapkan gerakan literasi keluarga, maka itu perlu ditularkan kepada keluarga-keluarga yang lain. Ini adalah sebuah gerakan positif. Sebuah keberhasilan perlu dirayakan dan dipublikasikan dengan harapan dapat menginisiasi sebuah Gerakan Bersama Literasi Keluarga 1819 (Geber Liga 1819). Ketika gerakan literasi keluarga sudah menjadi gerakan bersama diharapkan dapat menumbuhkan peradaban dan budaya literasi bangsa Indonesia. Lingkungan keluarga terkecil setelah keluarga satu Rukun Tetangga (RT) dapat menjadi contoh untuk memulainya.

Political will pemerintah untuk mendorong Gerakan Literasi Keluarga 1819 (Geber Liga 1819).
Untuk mendorong gerakan ini berhasil akan lebih mudah apabila ada itikad politik baik dari pemerintah setempat. Semisal seorang kepala desa merancang sebuah peraturan desa tentang Gerakan Bersama Literasi Keluarga 1819. Ketika upaya ini dijadikan kepentingan bersama, maka akan diupayakan bersama. Upaya politik akan lebih mudah dijadikan sebuah sistem.

Peluang dan hambatan Geber Liga 1819.
Sebuah gerakan bersama yang digagas untuk kebaikan bukan tanpa resistensi. Penulis berpendapat bahwa sebuah niat atau ide baik belum tentu bisa diterima baik oleh yang lain. Namun, menyerah bukanlah sebuah jawaban. Ide dan gagasan baik tetap harus konsisten digaungkan. Ini agar peradaban bangsa dapat tumbuh dari gerakan akar rumput.
Resistensi adalah tantangan yang harus dijawab dengan sebuah keberhasilan. Ketika hambatan dianggap sebuah tantangan untuk maju, maka keberhasilannya akan sangat indah pada waktunya.
Demikian sebuah gagasan tentang Gerakan Bersama Literasi Keluarga 1819 (Geber Liga 1819). Semoga dapat menjadi virus kebaikan bagi bangsa Indonesia. Negara yang kuat dan beradab dimulai dari keluarga hebat, cerdas karena literasi.
Harus dimulai dari sekarang. Ketika kita menunggu, negara lain sudah berjalan. Tidak ada pilihan selain memulai lebih cepat. (Moh. Anis Romzi – Kepala SMPN 4 Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, Penulis Buku).

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id