Hikayat Depati Parbo, Panglima Perang dari Sakti Alam Kerinci

German Besoi

Di bawah kaki gunung yang sejuk, hiduplah sepasang suami istri bernama Bimbe dan Kembang. Mereka hidup bahagia di Dusun Lolo Kecil, Desa Lolo, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi. Pada tahun 1839, di saat terik matahari menerpa dedaunan, lahirlah seorang bayi tampan di ruang lang lumeh atau ruang tengah sebuah rumah panggung.
“Oweeek…Oweeeeek…Oweeek,” bayi itu menangis saat digendong ayahnya. Ibunya masih berbaring.
“Alhamdulillah, Mak, anak kita tampan sekali,” mata Bimbe berkaca-kaca menatap istrinya. Kembang tersenyum bahagia.
Seorang dukun beranak memberikan wejangan merawat anak pertama itu. Lalu dukun yang berasal dari desa sebelah itu berpamitan pulang. Masyarakat yang sedari tadi menunggui Kembang melahirkan juga ikut pamit.
“Tapi, Mak. Mengapa banyak sekali tahi lalat di perutnya? Saat ia membuka mulutnya, aku juga melihat anak kita memiliki gigi geraham berwarna hitam seperti tiang besi di jembatan ujung desa. Aku takut sekali terjadi apa-apa dengan anak kita. Biasanya ‘kan bayi yang baru lahir belum tumbuh gigi,” ucap Bimbe dengan gelisah.
“Pak, saat aku hamil, seorang ninik mamak telah meramalkan bahwasanya kelahirannya adalah sebuah tanda. Kelak ia akan menjadi orang besar. Lihatlah, kulitnya putih bersih, matanya cokelat. Keistimewaan yang ada di tubuhnya harus kita syukuri,” Kembang tersenyum lagi.
“Kau tidak pernah bercerita padaku tentang itu, Mak. Baiklah. Aku beri nama ia Muhammad Kasib.” Bimbe mencium bayi yang sudah dibalut selembar kain berwarna putih. Kemudian bayi itu menangis lagi. Bimbe meletakkannya di samping ibunya. Bayi itu tiba-tiba diam.
“Ya, aku setuju,” Kembang menjawab sambil mengelus-elus rambut bayi yang lebat itu.
Karena keistimewaannya memiliki gigi geraham hitam saat lahir, orang tua Kasib dan keluarga lainnya sering memanggil Kasib dengan sebutan “german besoi”. German dalam bahasa Kerinci berarti ‘gigi geraham’, sementara kata besoi berarti ‘besi’. Dalam bahasa Kerinci, huruf i di akhir kata berubah menjadi oi.

Sulung dari Empat Bersaudara

Hari demi hari berjalan. Kasib kecil tumbuh menjadi anak yang periang. Saat berusia sepuluh tahun, Kasib sudah memiliki tiga adik perempuan, yakni Bende, Siti Makom, dan Likom. Sebagai anak sulung, Kasib sangat menyayangi ketiga adiknya itu. Ia juga dicintai oleh orang tua dan adik-adiknya.
Setiap hari, Kasib kecil belajar mengaji di surau. Selain rajin belajar agama, Kasib juga rutin belajar ilmu bela diri pencak silat dan ilmu kebatinan. Di ruang tengah, Kasib dan ketiga adiknya sedang bercengkerama dengan ibunya. Tiba-tiba sang ayah mendekati Kasib. Mereka berdua duduk agak menjauh dari ibu dan adik-adiknya.
“Nak, dalam adat alam Kerinci setiap anak harus berisi dan berilmu. Berisi, maksudnya kau harus menguasai ilmu bela diri dan kebatinan. Sementara berilmu, artinya kau harus menguasai ilmu agama. Ayah ingin kau belajar dengan serius. Sebab ketika beranjak dewasa nanti, kau pasti akan merantau meninggalkan kami. Hanya ilmu itu yang mampu menjagamu, Nak,” ucap sang ayah kepada anaknya.
“Ayah tidak perlu khawatir. Guruku di surau juga berkata demikian. Katanya, Belum kurik, belum menghambur. Artinya, belum cukup ilmu di dalam tubuh untuk menjaga keselamatan diri, maka belum berani merantau. Terima kasih, Ayah,” ucap Kasib sambil memegangi tombak yang sedang ia amati. Ruangan itu terasa terang dan hangat oleh cahaya lampu minyak yang digantung di langit-langit.
“Jika kau menguasai ilmu agama, ilmu silat, dan kebatinan, masyarakat di dusun akan segan kepadamu. Kau akan dihormati, Nak.” Sang ayah kembali menasihati.
Tiba-tiba Kasib menatap dalam ke mata ayahnya. “Ayah, aku menuntut ilmu bukan karena aku ingin dihormati dan disegani. Aku takut ilmu yang kelak kumiliki bisa membuatku tinggi hati. Aku ingin mempelajarinya karena aku harus mempelajarinya, Ayahku. Maafkan, Ananda.” Mata Kasib berkaca-kaca.
“Tidak, Sayangku. Kau tidak perlu meminta maaf. Ilmu yang kelak kau miliki, ayah harap mampu membawamu pada hal yang baik,” sang ayah tersenyum. Lampu minyak tiba-tiba padam tertiup angin. Mereka bergegas tidur. Suara lolongan anjing bersahut-sahutan. Bulan di atas atap belum tenggelam.

Selengkapnya: Hikayat Dipati Parbo