Hutanku Tinggal Kenangan

Rumah di Pinggir Hutan

Segelas teh hangat dan sepiring singkong rebus telah terhidang di atas meja dapur. Ardi baru saja selesai mandi dan sudah mengenakan seragam sekolahnya. Sambil tersenyum dia menghampiri sarapan pagi yang dibuatkan Ibu untuk dirinya.
“Hari ini umurmu sebelas tahun, Ardi. Kau sudah kelas 6 dan nanti kau mengikuti ujian akhir.
Karena di Long Ikis belum ada SMP, jadi kau harus melanjutkan sekolahmu ke kota lain,” terdengar suara Ibu.
Ibu sedang memasukkan kerupuk yang baru
saja dia goreng ke dalam plastik-plastik kecil dan mengelemnya dengan nyala api lampu pelita di pojok dapur. Kerupuk-kerupuk yang telah dikemas dalam plastik akan Ibu titipkan ke beberapa warung yang ada di desa kecil itu nantinya. Ardi juga kerap membantu menitipkan dagangan ibunya itu setelah pulang sekolah.
“Aku mau melanjutkan sekolah ke Tanah Grogot aja, Bu,” sahut Ardi sambil mengunyah singkong rebus.
“Ya, di Tanah Grogot banyak keluarga kita dan kau boleh pilih mau tinggal dengan siapa di sana. Di Kota Samarinda juga ada adik ibu yang paling bungsu, Paman Madi. Dia seorang wartawan.”
“Paman Madi yang berkaca mata itu kan, Bu?
Paman yang dulu pernah kemari?”
“Iya. Paman Madi itu pernah lama tinggal di Jakarta.”
Ardi tersenyum. Beberapa tahun lalu Paman
Madi memang pernah berkunjung kemari. Waktu itu Ardi masih kelas 4. Paman Madi memberinya beberapa buku cerita anak-anak. Sampai saat ini buku-buku itu masih dia simpan dengan baik. Ardi ingat. Paman Madi pernah berpesan padanya agar dia memupuk kegemaran membaca sejak kecil. Dulu Paman berkata, “Orang-orang besar dan sukses di dunia ini adalah orang-orang yang gemar membaca sejak kecil. Mereka adalah kutu buku.” Ardi masih ingat betul kata-kata pamannya itu.

Selengkapnya: Hutanku Tinggal Kenangan