Impian Rara

Tentangku

Pukul 06.30, masih sangat pagi sekali, Ayah tampak bersiap-siap pergi bekerja. Temannya sudah menunggu sejak tadi di teras rumah. Hari ini ada yang menawarkan pekerjaan untuk Ayah, yaitu memperbaiki atap kantor balai desa yang bocor. Ayah tampak sangat terburu-buru, mungkin merasa tak enak dengan temannya yang sejak dari tadi menunggu. Pada waktu yang sama aku dan adikku juga sudah bersiap-siap akan berangkat ke sekolah. Ayah berangkat bersama temannya. Mereka berboncengan menggunakan sepeda motor. Tiba-tiba dari dalam Ibu memanggilku.
“Rara …!
“Iya, Bu.”
Aku menghampiri Ibu yang sedang di dapur.
“Ini, Nak, Ibu titip kue apam ini untuk Bu RT,
sekalian mengembalikan wadah sayur kemarin,” Ibu berkata kepadaku sambil mengambil beberapa kue apam yang masih hangat dari panci pengukus.
“Sudah siap ini, Bu?”
“Eh, tunggu sebentar! Kelapa parutnya belum.”
Ibu menaburi kue apam itu dengan kelapa parut yang sudah dikukus.
“Nah, ini. Tolong kamu mampirkan ya, Nak.
Jangan lupa ucapkan terima kasih kepada Bu RT.”
Ibu menyerahkan wadah segi empat berwarna biru itu kepadaku.
“Baik, Bu. Kami berangkat ya, Bu.”Aku dan adikku berpamitan kepada Ibu sambil mencium tangannya. Kami berjalan ke luar rumah.
“Rara …!”
Aku menoleh ke belakang lagi.
“Hati-hati, Nak, jaga adikmu!”
“Iya, Bu.” Aku tersenyum kepada Ibu.
“Kami pergi, Bu. Asalamualaikum.”
“Alaikum salam.”

***

Aira Pertiwi namaku. Rara nama panggilanku. Bagiku nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku adalah anugerah yang luar biasa. Pastilah mereka mempunyai alasan yang baik memberikan nama tersebut kepadaku. Aku pernah bertanya kepada mereka, alasan apa yang mendasari mereka memberikan nama tersebut?

Penjelasan ayah membuatku merasa puas. Ternyata nama Aira Pertiwi diasumsikan memiliki nilai positif. Mereka berpendapat, arti nama tersebut adalah air yang mengalir di bumi pertiwi. Mereka berharap pemberian nama itu akan memberikan kebaikan bagiku, ibarat air yang mengalir yang mempunyai banyak manfaat. Harapan mereka, suatu saat aku akan sukses dan bermanfaat untuk orang banyak. Meski demikian, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku belum terpikir apa yang akan terjadi di masa mendatang. Yang terpenting bagiku, memiliki orang tua seperti mereka adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Aku bahagia dan bersyukur.

Selengkapnya: Impian Rara