Jaga Alam dengan Tradisi Nusantara

Alam Sahabat Kita

Teman, rumah kita bernama bumi sedang sakit dengan usianya yang semakin renta. Banyak kerusakan yang telah terjadi. Tempat kita tinggal, sungai, laut, hutan, dan udara yang kita hirup kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Ozon yang melindungi kita dari sinar ultraviolet semakin hari semakin menipis. Semua itu terjadi karena perilaku manusia yang tak bersahabat.
Tanpa kita sadari, kita sering melakukan sesuatu yang merugikan alam. Perbuatan ceroboh merugikan diri sendiri dan alam sekitar.
Coba ingat-ingat, perbuatan apa yang sering teman-teman lakukan yang berakibat tidak baik terhadap alam kita? Pernahkah terpikirkan oleh teman-teman bahwa apa yang kita lakukan dapat mengakibatkan banjir, polusi udara, tanah longsor, bahkan pemanasan global?
Mari kita lihat perjalanan teman-teman kita menjelajah alam. Ada Tomo, Udin, Kuswara, Tati, dan Endah. Coba kita lihat, apa yang akan terjadi apabila kita tidak bersahabat dengan alam.
Pagi masih terasa dingin dan sunyi. Ketika itu, Tomo begitu tergesa-gesa mengayuh sepeda menembus jalan desa.
Ada janji dengan sahabatnya, Udin. Mereka bersama dengan Tati, Endah, dan Kuswara akan pergi menjelajah bukit di perbatasan desa.

Sesampainya di rumah Udin, dengan sigap Tomo memarkir sepedanya dan bergegas menuju pintu rumah Udin.
“Udin, Udin!” teriak Tomo begitu keras.
“Assalamualaikum.” Suara itu terdengar dari dalam rumah. Suara yang tak asing bagi Tomo, tetapi bukan suara Udin. Ya, itu suara Pak Ustaz yang biasa mengajari dia mengaji tiap sore, bapaknya Udin.
“Wa alaikum salam,” jawab Tomo penuh rasa malu.
“Anu Pak, Udin ada?” tanya Tomo dengan gugup.
“Ada, itu di dalam sudah siap.” Pak Ustaz pun memanggil Udin.
Udin keluar dari rumah. Tomo pun merasa lega dan sudah tak lagi gugup. Mereka kemudian berpamitan dan bergegas menuju tempat berkumpul yang sudah disepakati.
Jalan yang mereka lalui lumayan sulit dan jauh karena melewati bukit yang jalanannya naik turun. Tomo tetap mengayuh sepeda dengan semangat dan gembira.
Beberapa waktu kemudian Tomo dan Udin sampai di samping gereja. Kuswara, Endah, dan Tati sudah di sana. Ibu Tati juga masih menemani mereka setelah selesai melakukan sembahyang. Mereka berlima bersalaman mohon izin kepada Ibu Tati dan bersiap untuk melakukan perjalanan.
Sepeda yang mereka bawa diparkir di samping gereja karena setelah ini jalanan sudah tidak bisa dilewati sepeda. Harus dilalui dengan jalan kaki. Mereka berjalan riang sambil mengecek bekal yang mereka bawa.

Perjalanan tidak mudah. Ranting menghalangi jalan, dedaunan menumpuk, dan tanah becek. Sesekali mereka berhenti sejenak memulihkan tenaga dan menikmati suasana sekitar. Mereka pun tak lupa berswafoto.
“Wah, bekal cepat habis nih kalau dibawa sama Tomo,” canda Tati sembari melihat Tomo yang terus asyik dengan camilan yang dipegangnya.
“Santai saja, teman. Ini di tasku masih banyak persediaan untuk kita,” jawab Tomo dengan camilan masih di mulut.
“Soal makanan, Tomo mah selalu mempersiapkan dengan baik.” Kuswara berseloroh dan disahut tawa oleh teman-teman yang lain.

Selengkapnya: Jaga Alam dengan Tradisi Nusantara