Jamu Gendong, Solusi Sehat Tanpa Obat

Sejarah Jamu Gendong

Sampai saat ini, belum dapat dipastikan sejak kapan jamu dikenal masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Namun, diyakini bahwa tradisi meracik dan meminum jamu telah ada sejak ratusan tahun silam. Meracik dan meminum jamu dipercaya sudah menjadi budaya pada masa kerajaan Hindu dan Buddha. Relief yang menggambarkan pembuatan atau penggunaan jamu, terdapat pada beberapa candi di Indonesia, seperti Candi Borobudur, Prambanan, Penataran, Sukuh, dan Tegalwangi.

Bukti sejarah lainnya adalah Prasasti Madhawapura. Prasasti yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit ini menyebutkan adanya profesi peracik jamu ketika itu. Peracik jamu ini disebut acaraki. Berdasarkan tradisi yang berlaku pada waktu itu, seorang acaraki harus berdoa lebih dahulu sebelum membuat jamu. Ia juga harus bermeditasi dan berpuasa sebelum meramu jamu. Semua ini harus dilakukan agar ia dapat merasakan energi positif yang bermanfaat bagi kesehatan. Ritual ini dilakukan karena masyarakat Jawa Kuno percaya bahwa sang penyembuh sejati adalah Tuhan.
Selain dari relief candi, sejarah jamu juga dapat diketahui berdasarkan sumber-sumber tertulis. Bukti tertulis penggunaan jamu, antara lain terdapat pada Serat Centhini dan Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi. Serat Centhini ditulis tahun 1814 M. Sementara itu, Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi atau tulisan pengetahuan tentang jamu Jawa ditulis tahun 1858. Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi memuat 1.734 resep ramuan jamu. Kawruh Bab Jampi-Jampi bisa jadi merupakan kitab yang memuat informasi paling sistematis tentang jamu.

Selengkapnya: Jamu Gendong Solusi Sehat Tanpa Obat