Ketika Mendikbudristek Berbagi Inspirasi dengan Calon Pemimpin Muda Masa Depan pada AYF 2022

Jakarta, 4 November 2022—Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim Rabu (2/11) sore menghadiri pertemuan ASEAN Youth Fellowship (AYF) di Jakarta. Di hadapan 45 delegasi yang hadir, selama satu jam Mendikbudristek menjawab berbagai pertanyaan seputar visi dan misinya tentang kehidupan, profesi, hingga dunia pendidikan di Indonesia yang diajukan secara terbuka oleh para calon pemimpin muda masa depan ASEAN.

Mengawali perbincangan, Mendikbudristek bercerita tentang bagaimana ia akhirnya memilih untuk mengambil risiko berada dalam lingkaran birokrasi dan menjadi orang nomor satu di dunia pendidikan dan kebudayaan. “Saya berkaca dari anak-anak saya, jika saya tidak berani untuk mengambil tantangan ini, bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan mereka suatu saat nanti tentang saya yang menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berbuat sesuatu demi negeri ini,” tuturnya.

Baginya, kesempatan untuk gagal setelah mencoba merupakan hal yang biasa dalam sebuah perjuangan. Dengan demikian, saat diminta untuk bergabung oleh Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Kerja Jilid II, ia tidak melewatkan kesempatan tersebut. “Meski perjuangan ini harus saya bayar dengan belajar dan bekerja keras setiap saat,” ucapnya yang berkeyakinan bahwa tidak apa-apa mengambil risiko karena tidak ada orang yang langsung berhasil dalam pencapaiannya.

Berangkat dari latar belakang pendidikannya yang bergelut di bidang teknologi informasi, menurut Nadiem ada irisan semangat yang ia miliki dengan amanah yang ia emban sebagai Mendikburistek. Ia mengaku bersemangat untuk berjuang meningkatkan kualitas pendidikan yang membutuhkan campur tangan teknologi untuk bisa bertahan dan bersaing di tengah perubahan zaman.

“Saya terobsesi di bidang teknologi dan sekarang hal itu saya gunakan untuk bagaimana meningkatkan kapasitas SDM di Indonesia,” ungkap pria yang mengaku sebelum terjun ke pemerintahan, sebelumnya ia tidak memiliki latar belakang di bidang pendidikan, politik maupun birokrasi.

Sebagai salah satu kunci yang dibutuhkan di masa depan, penguasaan teknologi diyakini Nadiem bisa menjawab tantangan pada sektor pendidikan. Contohnya di masa pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu, teknologi dalam pembelajaran menjadi fasilitator untuk meminimalisir hilangnya pembelajaran (learning loss). Saat itu, mengingat pentingnya jaringan internet untuk menunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ), pemerintah menyediakan bantuan kuota internet bagi peserta didik, guru, tenaga kependidikan, dan dosen.

Salah satu pengalaman yang juga menjadi pelajaran berharga dalam mengemban tugas sebagai Mendikbudristek, dikatakan Nadiem adalah kesempatan untuk berkolaborasi dengan berbagai latar belakang pegawai di kementerian. “Pekerjaan saya memerlukan hubungan kolaborasi yang erat antara senior dan junior dalam mencapai suatu tujuan,” tekannya yang meyakini bahwa tujuan hanya dapat tercapai dengan kerja sama yang solid antarsemua pihak sebagai satu kesatuan tim kerja.

Kolaborasi lanjut Nadiem, tidak hanya terjadi di lingkup internal kementerian. Gotong royong juga harus senantiasa terjalin dengan para pemangku kepentingan di lingkup eksternal. “Kita butuh itu untuk memulai perubahan dan terbukti meski banyak melalui pasang surut, setelah tiga tahun berjalan, kebijakan pendidikan yang diusung bersama ini mulai mengarah pada tujuan yang ingin kita capai bersama,” jelas dia.

Mendikbudristek menyadari, tujuan pendidikan itu berawal dan berakhir pada kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, Kemendikbudristek memegang teguh prinsip tersebut dalam menjaga marwah dan implementasi kebijakan yang diluncurkan. Sebab, pendidikan merupakan hajat hidup orang banyak yang di dalamnya juga menyimpan permasalahan klasik yang ia sebut sebagai tiga dosa besar pendidikan. Sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi. Berbagai capaian kebijakan Kemendikbudristek terkait Merdeka Belajar mulai episode 1—22 dapat diakses melalui http://merdekabelajar.kemdikbud.go.id/.

Mendikbudristek berpesan kepada perwakilan kaum muda ASEAN untuk tidak menyerah pada keadaan. Termasuk ketika ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ia mencontohkan dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran, Kemendikbudristek mengawalinya dengan mengubah pola pikir para pendidik. Dengan demikian, maka Indonesia bisa berharap memiliki peserta didik yang merdeka pola pikirnya untuk menggapai berbagai lompatan prestasi gemilang.

“Beri para guru ruang untuk merdeka dalam mengajar, menerapkan pola baru yang menstimulasi kreativitas anak-anak. Lalu, beri kemerdekaan bagi murid untuk berkreasi dan berpikir kritis. Guru Penggerak kita ciptakan untuk menjadi pemimpin dalam mengelola menajemen sekolah, maka kami beri mereka kesempatan untuk memimpin sebagai kepala sekolah maupun pengawas. Mereka lebih berorientasi pada murid dan fokus pada tiga aspek (literasi, numerasi, survei karakter),” jelasnya.

Mendikbudristek juga mengajak kaum muda untuk mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup. Seperti dirinya yang pernah mengenyam profesi di sektor swasta di mana di sana ia belajar tentang budaya transparansi serta semangat berinovasi dan beradaptasi. Oleh karena itu, ia mengimbau kaum muda untuk aktif terlibat dalam kebijakan yang diambil pemerintah.

Sementara di birokrasi, Nadiem mengaku Ia mendapatkan pembelajaran dari praktisi terbaik yang diyakininya mampu memperkaya wawasan, pengalaman dan pengetahuan. Menurutnya, ketika bekerja sama dengan para senior memerlukan kedekatan secara humanis. Mereka sedikit bicara cenderung lambat namun kaya akan pemikiran dan memiliki cara pandang yang luas. “Saya menikmati prosesnya dan (masih) belajar soal bagaimana mengelola hubungan yang harmonis dengan publik,” tekannya.

Sebelum mengakhiri, Mendikbudristek memberi pesan kepada para kaum muda ASEAN. “Kalian harus terbuka dengan ide dan masukan dari luar dan terbiasalah bekerja sama dengan siapapun karena pada akhirnya dalam sebuah pelayanan publik bukan soal uang yang menjadi isu utama tapi bagaimana ketika kita bisa mendekati publik sasaran agar apa yang kita upayakan dapat dirasakan manfaatnya bagi orang banyak,” tutup Mendikbudristek.

Sekilas tentang ASEAN Youth Fellowship (AYF)

ASEAN Youth Fellowship (AYF) adalah program pengembangan kepemimpinan eksklusif untuk mengembangkan dan menghubungkan para pemimpin muda masa depan ASEAN, diselenggarakan oleh Singapore International Foundation (SIF) dengan kemitraan bersama National Youth Council (NYC) .

Didukung oleh Singapore-ASEAN Youth Fund (SAYF), program ini dibangun berdasarkan nilai-nilai Ketahanan, Kepemimpinan, dan Kohesi. Program ini diluncurkan untuk memperingati Kepemimpinan Singapura di ASEAN pada tahun 2018.

Tujuan dari program ini adalah 1) Memberikan kesempatan pengembangan kepemimpinan bagi para pemimpin muda di ASEAN; 2) Membangun jaringan yang kuat di antara para pemimpin muda di sektor 3P (public, private, dan people); dan 3) Mengekspos para pemimpin muda di ASEAN terhadap berbagai peluang di kawasan.

Peserta ASEAN Youth Fellows adalah para pemimpin dan influencer muda ASEAN dari berbagai sektor. Banyak dari mereka juga secara aktif terlibat dalam komunitas, di luar tanggung jawab profesional mereka. Kandidat dinominasikan melalui organisasi mitra yang bekerja sama dengan NYC dan SIF di berbagai bidang termasuk pengembangan kepemimpinan pemuda dan kerja sama regional, atau melamar melalui rekrutmen terbuka. Ada sekitar 157 Fellows yang berada dalam jaringan hingga saat ini.

Setelah berhasil menyelesaikan program ini, para Fellows AYF berkomitmen untuk 1) Menjalin ikatan yang lebih kuat dan bekerjasama yang lebih erat di antara Fellowship; 2) Memperluas dan memperkuat konektivitas di kalangan pemuda ASEAN; 3) Meningkatkan kapasitas pemuda; dan 4) Berusaha untuk menciptakan dampak sosial yang lebih besar.

Sumber : Siaran Pers Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor: 694/sipres/A6/XI/2022