Kisah Petualangan Linjo (Bagian 1)

Cerita Orang Bakun
Fabel dari Jambi

Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri di sebuah hutan. Mereka baru saja membuka ladang di tengah hutan. Mereka menanam padi, jagung dan kebutuhan lainnya di ladang yang baru itu. Sang suami bernama Tandang sedangkan istrinya bernama Dalima, keduanya baru setengah tahun menikah. Karena Tandang orang yang suka bekerja keras, dia membawa istrinya yang tengah mengandung, tinggal di pondok yang jauh dari desa. Sekalipun mertuanya pernah memberi nasihat, bahwa tidak baik orang yang tengah mengandung tinggal di ladang yang jauh dari desa. Kata orang tua di Kerinci,
orang yang tengah mengandung memiliki aroma tertentu, yang dapat mengundang binatang buas seperti harimau. Namun, pasangan suami istri itu
telah bertekat akan berladang di tengah hutan, selain tanahnya subur, di sana akan memudahkan mereka untuk mempersiapkan bahan-bahan kayu untuk pembangunan rumah di kampungnya nanti. Jarak ladang mereka dari kampung memang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Beberapa bulan kemudian, Dalima merasakan ada tanda-tanda akan melahirkan, ia memanggil suaminya, Pak Tandang, yang sedang mencangkul di ladang.
Tuwoa , kemarilah sebentar, pinggangku sakit sekali. Mungkin ini tanda-tanda akan melahirkan, sebaiknya kaya
pergi ke kampung memanggil dukun,” kata Dalima kepada suaminya.
Sang Suami agak terkejut dan segera memapah istrinya kembali ke pondok mereka. “Baiklah Lima, tidurlah kau di sini dan jangan turun ke bawah pondok,” kata Suami sambil membaringkan sang Istri, kemudian ia segera berangkat menuju desa. Tinggallah Dalima seorang diri
di dalam pondok, suara siamang yang bersahutsahutan dan kicauan burung-burung dari dalam hutan yang menemaninya.

Sampai suatu ketika rasa sakitnya tak tertahankan, Dalima seperti me­­­lihat sesosok nenek telah berada di dekatnya. “Tina, cepat tolonglah saya, rasanya sudah tak tahan lagi,” kata Dalima sambil menguruturut perutnya. “Huh! Tidurlah, Cu. Biar kukeluarkan bayimu,” jawab sang nenek dalam bahasa yang kurang jelas.
Kemudian sang Nenek membantu Dalima tidur di lantai, ia mulai mengurut-urut perut Dalima. Beberapa saat kemudian sang Nenek tadi membantu Dalima melahirkan. Dalima setengah tak sadarkan diri dan ia tidak begitu jelas bagaimana cara nenek mengeluarkan bayinya. Sang Nenek menjilat-jilat darah yang berceceran dan memakan ari-ari anak yang baru lahir. Setelah membersihkan bayi dan sisa-sisa darah yang melekat di lantai maupun di perut Dalima, Nenek itu menggendong dan menimang-nimang bayi Dalima yang menangis.

Selengkapnya: Kisah Petualangan Linjo (Bagian 1)