Kisah Raja Kura-Kura

Kisah Raja Kura-Kura
Fabel dari Aceh

Cerita dongeng yang berasal dari Kabupaten Aceh Barat ini dituturkan Cek Hasan, seniman sekaligus pehikayat dari Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat.
Ada seorang raja bernama Raja Jiwa. Istrinya bernama Putri Sabon. Selama lima belas tahun menikah mereka tidak mempunyai keturunan. Mereka sudah berobat ke sanasini, tetapi tidak juga dikaruniai anak. Mereka juga sudah bernazar ke berbagai tempat, tetapi hasilnya tetap nihil. Setelah lima belas tahun usia pernikahan mereka, raja mulai menunjukkan kemarahannya kepada istrinya.
“Kukatakan kepadamu, istriku. Jika tahun ini kita tidak juga mempunyai anak, aku akan menikah lagi! Alangkah ruginya aku menjadi raja jika tidak ada anak yang dapat menggantikan kedudukanku. Setelah aku meninggal, siapakah orang yang akan mengurus harta yang aku miliki?
Sebab, kita tidak mempunyai anak,” kata Raja Jiwa kepada istrinya.
Istri Raja Jiwa merasa gundah setelah mendengar penuturan raja. Karena ia belum mampu memberikan anak, suaminya mengancam ingin menikah lagi.
“Bagaimana caranya supaya aku dapat memiliki anak? Padahal aku sudah berobat ke sana kemari,” pikir Putri Sabon dengan rasa gundah dan cemas.
Dalam keadaan seperti itu, yaitu ketika mereka sedang ribut mengenai anak, muncullah seorang wanita tua. Putri Sabon menceritakan kepada wanita itu mengenai masalah yang dihadapinya.
“Jadi, begini, Ibu. Aku sudah menjadi istri raja selama lima belas tahun. Selama kami menikah, kami belum mempunyai keturunan. Jika tahun
ini aku belum mempunyai keturunan, raja akan menikah lagi. Seperti itu yang dikatakannya kepadaku dan ia sudah meminta izin kepadaku.
Jika seperti itu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Putri Sabon.

“Aku akan bernazar. Carilah kemenyan!” perintah wanita itu. Putri Sabon pergi mencari kemenyan. Setelah kemenyan didapatkannya, ia membawa pulang kemenyan itu dan diserahkannya kepada wanita tua tersebut.
“Bakarlah kemenyan itu dengan api! Letakkanlah dalam abu dapur,” suruh wanita tua itu.
Setelah kemenyan dibakar, bernazarlah wanita tua itu.
“Ya Ilahi, Ya Rabbi. Karuniakanlah anak untuk Putri Sabon. Boleh anak perempuan atau anak laki-laki. Kalaupun anaknya seperti kura-kura
pun boleh. Asalkan mereka mempunyai anak,” kata wanita tua itu mengucapkan nazar.
Setelah wanita tua itu bernazar, pada bulan berikutnya ternyata Putri Sabon sudah mengandung. Disampaikannya kepada raja tentang kehamilannya.
“Raja Tuanku, saya sepertinya sudah tertahan di bulan ini,” kata Putri Sabon.
“Tertahan apa?” tanya Raja tidak mengerti.
“Maklumlah Raja, kami kaum perempuan ini dalam sebulan sekali ada menstruasi. Sekarang tidak ada lagi.”
“Katakanlah yang sebenarnya. Kalau kita mempunyai anak walaupun seperti kura-kura pun boleh. Asalkan ada satu anak,” kata Raja menyampaikan keinginannya.

Selengkapnya: Kisah Raja Kura-Kura