Kolaborasi Pemerintah dan INOVASI dalam Menyukseskan Pemulihan Pembelajaran

Jakarta, Kemendikbudristek — Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), bersama Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Program INOVASI menyelenggarakan forum Temu Inovasi yang ke-13. Acara ini bertujuan untuk berbagi praktik inspiratif dalam upaya pemulihan pembelajaran di berbagai daerah dalam rangka persiapan Tahun Ajaran 2022/2023, termasuk persiapan implementasi Kurikulum Merdeka.

“Salah satu yang paling mendasar adalah literasi membaca yang selaras dengan fokus program INOVASI. Inisiasi INOVASI di sisi lain mengajarkan tentang optimisme dan semangat dari para guru dan kepala sekolah dari berbagai daerah mitra INOVASI,” tambah Anindito.

Anindito menambahkan bahwa tahun ini sudah hampir 150 ribu sekolah yang mendaftar untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Ini menandakan antusiasme yang besar dari para guru dan kepala sekolah untuk menyediakan pembelajaran yang berkualitas bagi anak-anak.

“Namun, pergantian kurikulum bukanlah tujuan, melainkan sebagai cara untuk mencapai cita cita. Dalam hal implementasi, kita belajar dari INOVASI tentang pentingnya membangun kolaborasi yang solid dengan pemerintah daerah. Pemerintah daerah sebagai bagian dari penyelenggara pendidikan,” jelas Kepala BSKAP.

Pada kesempatan ini, turut dibahas pula hasil studi yang dilakukan Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kemendikbudristek bekerja sama dengan INOVASI yang mengangkat topik “Peran Kurikulum dalam Mengatasi Learning Loss dan Meningkatkan Kemampuan Literasi dan Numerasi siswa.” Sesi ini dipaparkan oleh Pelaksana tugas (Plt.) Kepala PSKP, Irsyad Zamjani dan Advisor program INOVASI, Robert Randall.

Irsyad Zamjani menjelaskan bahwa hasil studi kesenjangan pembelajaran (learning gap) terhadap 600-an satuan pendidikan di Indonesia, jika dibandingkan hasil belajar siswa yang menerapkan kurikulum darurat ternyata mampu memitigasi risiko hilangnya pembelajaran (learning loss) selama sebulan untuk literasi dan dua bulan untuk numerasi.
“Sementara, sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013 hasilnya, baik literasi dan numerasi ditemukan adanya kesenjangan sebanyak 4 bulan,” urai Irsyad.

INOVASI menemukan adanya indikasi hilangnya lima bulan pembelajaran untuk numerasi dan enam bulan pembelajaran untuk literasi. Studi ini menjadi pijakan dan optimisme bagi Kemendikbudristek dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Studi PSKP dan INOVASI menunjukkan kurikulum yang lebih fleksibel lebih mampu mengakomodir karakter siswa yang beragam, sehingga guru dapat memberikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.

Penasehat program INOVASI, Robert Randall memaparkan mengenai manfaat dari Kurikulum Merdeka yaitu adanya ekspektasi yang jelas. “Kita bisa lihat apa yang kita harapkan dari anak-anak, apa yang ingin anak-anak pelajari. Ekspektasi yang jelas ini terjadi di berbagai fase,” ujar Robert.

Robert menambahkan bahwasanya pembelajaran berbasis projek dalam Kurikulum Merdeka dapat membantu siswa memperdalam pelajaran. “Pembelajaran semisal ini bisa meningkatkan relevansi antara teori dan realita. Kurikulum Merdeka memberikan lebih banyak fleksibilitas dan meningkatkan pendekatan tim/kolaborasi dari guru dengan latar belakang yang beragam. Orang yang berkumpul dalam kelompok, mereka bisa saling belajar satu sama lain,” jelas Robert.

Ragam Upaya Inspiratif Pemulihan Pembelajaran

Temu INOVASI telah rutin digelar sejak 2018 dan hari ini merupakan Temu INOVASI ke-13 yang digelar untuk menghadirkan ruang berbagi dan diskusi tentang upaya bersama dalam meningkatkan kemampuan dasar literasi dan numerasi siswa. Acara hari ini memberikan kesempatan bagi para pemangku kepentingan pendidikan di tingkat pusat maupun daerah berbincang seputar praktik inspiratif dalam rangka persiapan Tahun Ajaran 2022/2023, termasuk persiapan implementasi Kurikulum Merdeka.

Adapun empat mitra provinsi program yaitu Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Utara, dan Jawa Timur, khususnya terkait upaya peningkatan hasil belajar siswa; upaya pemulihan pembelajaran, dan persiapan implementasi Kurikulum Merdeka.

Sesi diskusi pertama dengan topik “Menyambut Tahun Ajaran Baru 2022/2023 dan Persiapan Implementasi KM di Daerah” dipandu oleh Plt. Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, BSKAP, Kemendikbudristek, Zulfikri Anas. Narasumber yang hadir untuk berbagi pengalamannya adalah Guru SDN 005 Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Dedy Apriansyah; Guru SDN Punten 1 Kota Batu, Jawa Timur, Qoriatul Azizah; Guru SDN 3 Batunyala, Lombok Tengah, NTB, Sri Ida Rohyani; dan Guru SDN Omba Rade, Sumba Barat Daya, NTT, Magdalena Bulu.

Dedy Apriansyah mengisahkan adanya penurunan minat membaca dikarenakan pemilihan buku yang tidak tepat. Buku yang tidak tepat menurutnya dapat mengganggu psikologi siswa. Oleh karena itu, Program INOVASI membantu guru untuk memilih buku sesuai jenjang anak melalui asesmen formatif.

“Tidak ada kekhawatiran kami atas peralihan kurikulum karena kami sudah terbiasa untuk mengajarkan hal-hal esensial. Kurikulum Merdeka memfokuskan Kompetensi Dasar menjadi lebih esensial sehingga materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan Kompetensi Dasar. Keadaan ini menyebabkan para guru memiliki waktu yang lebih fleksibel untuk memperdalam materi pembelajaran bagi anak-anak,” sambung Dedy.

Berikutnya, gelar wicara kedua mengangkat tema “Upaya Daerah: Pemulihan Pembelajaran dan Mendukung Fondasi Belajar Siswa” yang dimoderatori oleh Direktur Eksekutif PSPK, Nisa Felicia. Narasumber yang berbagi kisah dan upaya di daerahnya adalah Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do; Kepala Dinas Pendidikan Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, Fathur Rozi; Kepala Dinas Pendidikan Tana Tidung, Provinsi Kalimantan Utara, Jafar Sidik; dan Perencana Ahli Madya, Dinas Pendidikan Lombok Tengah, Provinsi NTB, Harsono.

“Kita sama-sama paham bahwa Kurikulum Merdeka adalah salah satu opsi kurikulum yang dapat sekolah implementasikan. Sebelum ada tawaran implementasi secara mandiri, kami sudah punya inisiatif untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka. Perkembangan pola pikir (Growth mindset) mendorong kami dalam mengimplementasikan (Kurikulum Merdeka) karena kami juga sudah berkolaborasi dengan INOVASI yang senantiasa mendorong growth mindset,” urai Fathur Rozi.

“Penyelenggaraan lingkungan belajar yang berkualitas dapat diwujudkan melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) yang solid karena forum-forum ini dapat berperan untuk saling berbagi praktik baik antar guru,” imbuh Fathur Rozi seraya menekankan peran strategis KKG dan MGMP.

Turut hadir, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas, Subandi. Ia mengatakan, tantangan besar di dunia pendidikan yang pertama adalah bagaimana mengurangi kesenjangan antar wilayah akses pendidikan memang sudah meningkat, namun pemerataan masih menjadi tantangan, apalagi jika bicara soal kualitas.

Subandi mengungkapkan bahwa Bank Dunia sudah memprediksi hilangnya pembelajaran (learning loss) sebagai dampak dari pandemi. Hal ini tampak dari hasil PISA di Indonesia yang cenderung tidak mengalami peningkatan yang signifikan, termasuk hasil kemampuan literasi siswa.

“Inilah yang harus kita perjuangkan, dan melalui program INOVASI contoh-contoh baik dari para guru, bupati, dan kepala dinas nantinya bisa menjadi bahan evaluasi kita bersama, termasuk Bappenas,” tegas Subandi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag, Muhammad Ali Ramdhani, juga memberikan tanggapan, “Kita mungkin berjalan cepat dengan berjalan sendirian, tapi kita bisa berjalan lebih jauh jika kita berjalan bersama-sama,” ucap Ali Ramdhani.

Ia lantas menekankan bahwa tantangan pendidikan Indonesia yang kompleks tidak mungkin dapat ditangani tanpa kolaborasi yang solid antar berbagai pemangku kepentingan. Melalui Temu Inovasi ke-13, Ali Ramdhani berharap para peserta bisa saling belajar dari guru dan pemerintah daerah dalam menerjemahkan dan menyukseskan implementasi berbagai kebijakan demi pendidikan Indonesia yang semakin berkualitas dan berkeadilan. *** (Penulis: Tim BSKAP, Andrew F./Editor: Denty A.)