Kuliner Langka Minangkabau

Cancang Karani

Rini anak berambut ikal yang suka berbagi makanan dengan teman-temannya. Saat ia ke luar kota bersama ayahnya, tak lupa Rini selalu membawakan oleh-oleh untuk temannya.
Teman-teman Rini sangat senang berteman dengannya. Selain baik hati, Rini juga ramah dan tidak suka memilih-milih teman. Rini selalu menjadi bintang kelas karena siswi berambut ikal ini rajin dan tekun belajar.
Saat kenaikan kelas, Rini kembali meraih juara I. Rini sangat gembira. Saat makan malam, ayah Rini mengabarkan berita gembira.
“Nilai Rini sangat bagus, Ayah akan memberikan hadiah,” ucap Ayah kepada Rini.
“Hadiah apa, Yah, boleh tahu enggak?” tanya Rini dengan wajah bahagia.
“Kita akan pulang ke kampung, tapi kali ini Ayah akan mengajak untuk berkunjung ke tempat wisata di sana,” jelas Ayah.
Begitu senang dan bahagianya Rini. Sudah lama tak berkunjung ke kampung ayah dan ibunya. Ia pernah ke Bukittinggi saat masih kecil.
“Pasti Nenek dan Kakek akan senang dengan kedatangan kita,” gumam Rini. Sejak ayahnya pindah ke Jakarta, mereka memang jarang pulang ke Bukittinggi.
Rini langsung ingat masakan Minang yang lezat-lezat. Pasti di Bukittinggi makanannya jauh lebih enak karena dibuat langsung dengan bumbu dan bahan asli dari sana. Rini mulai mengkhayal. Ia tak sabar ingin cepat sampai di rumah neneknya.
“Ayah, Nenek masak apa untuk kita nanti, Yah?” desak Rini tidak sabar.
“Lihat saja nanti setelah sampai di Bukittinggi,” goda Ayah.
“Yang pasti Nenek akan memasak masakan yang jarang kita temukan di rumah makan padang,” sambung Ayah lagi menambah rasa penasaran Rini.
“Seperti apa, Yah?” Rini makin penasaran.
“Ayah sudah minta Nenek untuk memasak cancang karini,” tambah Ayah lagi.
“Masakan apa itu, Yah? Apakah enak? Memang kita belum pernah makan, ya?” Rini semakin penasaran.
“Kamu lihat saja nanti,” goda Ayah sambil tersenyum.
Rini cemberut karena penasaran. Ia ingin sekarang juga sampai di rumah neneknya agar bisa merasakan cancang karini yang disebut Ayah barusan.
Rini dan keluarga terbang menuju Padang. Perjalanan ditempuh selama lebih kurang 2 jam. Sebelum mendarat, Rini melihat keluar jendela. Pemandangan yang luar biasa indahnya.
“Wah … banyak pulau kecil ya, Yah …,” decak Rini kagum.
Pesawat mendarat di landasan pacu Bandara Udara Internasional Minangkabau. Bandara ini terletak di Kabupaten Padang Pariaman. Saat pesawat sudah berhenti dengan sempurna, Rini mengemasi barang dan masuk ke gedung terminal. Paman Rini telah menanti di pintu kedatangan. Mereka pun bersama-sama menuju Kota Bukittinggi.
Banyak pemandangan indah yang dilalui. Hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning. Bukit-bukit yang tampak jelas menjulang tinggi. Memasuki kawasan perbukitan, Paman menghentikan kendaraan untuk mampir ke objek wisata yang ada di sana.
Objek wisata yang Rini kunjungi saat ini adalah air terjun Lembah Anai. Air terjun ini berada tepat di pinggir jalan. Banyak pengunjung yang berasal dari luar daerah, bahkan dari negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
“Air ini munculnya dari mana Paman?” tanya Rini kepada Paman.
“Air terjun ini mengalir dari sumber air yang berada di puncak perbukitan. Konon ceritanya, jika kita mencuci muka di sini, wajah kita jadi lebih bersih dan bisa awet muda,” jelas Paman.

“Rini mau dong turun ke bawah. Sebentar ya, Yah,” kata Rini meminta izin kepada Ayah.
Selesai mencuci muka, Rini dan keluarga melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan masih disuguhi perbukitan yang indah dan tinggi. Jalan yang berliku-liku membuat Rini merasa pusing. Ia pun tertidur di pangkuan Ibu. Mobil Paman berhenti di sebuah rumah yang asri. Rumah itu penuh dengan bunga yang bermekaran. Di sana ada taman bunga dengan rumput yang bersih. Rini pun terbangun dari tidurnya.
“Ayo Rini, kita sudah sampai di rumah Nenek,” kata Ibu membangunkan Rini dengan pelan.
Mereka disambut dengan hangat. Di pintu rumah muncul seorang wanita tua yang masih terlihat cantik.
“Ondeh …! Alah gadang cucu Nenek, dak saba Nenek nak basuo jo cucu Nenek nan kamek ko,” sambut Nenek sambil memeluk Rini.

Selengkapnya: Kuliner Langka Minangkabau