Pekan Budaya Indonesia 2017 Ragam Budaya Untuk Indonesia Berkarakter

Dari Palu Untuk Indonesia

Mengapresiasikan kebudayaan daerah perlu dilakukan secara konsistensi dan serius. Sebagai buktinya, Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Pekan Budaya Indonesia untuk menggaungkan keunikan dan nilai-nilai budaya khas daerah, yang tertunjuk dari Palu untuk Indonesia.

Pekan Budaya Indonesia merupakan salah satu bentuk implementasi pelestarian budaya, yang berfokus untuk menyajikan, menghadirkan dan memprakarsai pelaku seni dalam rangka pelestarian budaya. Direktorat Jenderal Kebudayaan telah melaksanakanPekan Budaya Indonesia dimulai padatahun 2015 di Kota Semarang, Jawa Tengah dalam rangka memperingati hari jadi Kota Semarang. Pelaksanaan Pekan Budaya Indonesia ke-2 dilaksanakan di Kota Malang, Jawa Timur. Pekan Budaya Indonesia yang ke-3 dilaksanakan di Kota Palu dengan komitmen pemerintah Kota Palu dan Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk memperkuat dan memajukan kebudayaan. Kegiatan ini melibatkan pelaku seni dan budaya serta komunitas lintas daerah.

Palu, sebuah ibukota yang terletak di jantung Provinsi Sulawesi Tengah ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Pekan Budaya Indonesia tahun 2017. Keelokan panorama daerah dengan sebutan Mutiara Khatulistiwa ini kian memikat, pun dengan kebudayaan yang dihadirkan, baik itu kesenian, tari-tarian, tradisi hingga kulinernya. Semakin menguatkan hati bahwa pesona Palu kian indah di mata dunia.

Tahun ini, Pekan Budaya Indonesia mengusung tema “Ragam Budaya Untuk Indonesia Berkarakter”, dengan tujuan menjadi ruang temunya antara komunitas dan pelaku kebudayaan yang tersebar di Indonesia. Acara ini dihelat selama enam hari lamanya, terhitung sejak 22 September – 27 September 2017. Khusus tahun 2017, Pekan Budaya Indonesia dikemas secara berbeda dan menyeluruh lantaran dilaksanakan bersamaan dengan Festival Pesona Palu Nomoni 2017, yang mengangkat kearifan budaya khas Palu dalam atraksi seni pertunjukan bernilai seni tinggi.

“Tahun depan mungkin levelnya sudah tidak lagi di Palu, namun sudah di Sulawesi Tengah. Hanya saja palu sebagai jantungnya atau mutiaranya. Dan acara ini kita anggap sebagai latihan. Tahun 2019 kita maju bukan lagi ‘Dari Palu untuk Indonesia yang Berbudaya dan Beradat’ tetapi ‘Palu Untuk Dunia’. Nanti akan dibuat festival internasional tentu keterlibatan dari semua pihak, tidak hanya satu-dua. Saya kira kita sudah punya Undang-undang Pemajuan Kebudayaan yang mendukung untuk itu,” jelas Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid saat membuka acara.