Petualangan Linjo Bagian 2 dan Kisah Lainnya

Cerita Bukit Patahan Gunung Jelatang (Fabel dari Jambi)

Linjo dan Tenggiling berjalan menyusuri sungai, yang alirannya berbalik arah ke arah Barat. Mereka sampai pada tanjung berliku, di sini terdapat sebuah desa dan beristirahat sebentar. Kemudian keduanya berjalan dalam hutan Beruga, ketika mereka sampai di negeri Langgundi Depati Sidiuk, Linjo diminta agar bermalam di rumah beliau. Depati Sidiuk berkata, “Ananda Linjo, di sebelah Barat negeri ini ada sebuah bukit. Kebetulan sewaktu saya duduk di teras pada malam bulan purnama, terlihat cahaya pelangi melesat ke angkasa dari atas bukit itu. Saya bertanya kepada seorang penduduk yang
lewat di halaman, apa ia juga melihat cahaya pelangi itu, dia menjawab tidak. Baru saya sadari bahwa saya mempunyai pusaka cermin terus raja
kebayang, yang mana pemiliknya dapat melihat sesuatu yang tidak nampak oleh mata biasa.” “Apakah di sana ada emas atau intan permata? Saya akan coba menyelidiki bukit itu. Bapak, lanjutkan ceritanya,” kata Linjo berminat. Depati Sidiuk melanjutkan, “Kata orang bukit itu berasal dari patahan
Gunung Jalatang di Hiang, yang hanyut terbawa air bah Sungai Sangkir waktu air danau surut. Patahan bukit mengapung hanyut dan terdamparlah di tempatnya sekarang. Bukit itu dinamai orang Bukit Terapung, berdekatan dengan bukit itu ada sebuah negeri bernama Kuta Lama, diperintah oleh seorang kepala suku bergelar Situnggok.”

Esok harinya Linjo melanjutkan perjalanan dengan tujuan ke Bukit Terapung, dia bermaksud ingin mengetahui tentang pelangi yang muncul dari bukit tersebut. Linjo menemui kepala suku negeri Kuta Lama yaitu Situnggok, dengan harapan dapat menginap beberapa hari di tempat itu.
“Jika saudara Linjo berniat tinggal sementara di sini, saya bersama penduduk menerima dengan segala senang hati,” kata kepala suku sambil tersenyum.
“Senang hatiku tuanku Depati, kaya bersedia menerima kami”, jawab Linjo gembira. Linjo membawa Tenggiling memeriksa Bukit Terapung. Bukit itu tidak begitu besar, ditumbuhi hutan belukar dan sekelilingnya terdapat rawarawa. Linjo meninggalkan Tenggiling di suatu tempat, kemudian ia memeriksa setiap sudut hutan belukar itu. Sayangnya, Linjo tidak menemukan apa-apa, kecuali binatang-binatang kecil dan melata lainnya. Linjo bermaksud akan pergi dari bukit, ia kembali ke tempat ia meninggalkan Tenggiling. Sampai di tempat semula, ia tidak menemukan sang Tenggiling. Linjo berkata dalam hatinya,
“Mungkin juga Tenggiling masuk hutan mencari makan, biarlah kutunggu.” Lama ia duduk menunggu Tenggiling, tapi sang Tenggiling belum juga muncul. Linjo menjadi bosan ia berteriak memanggil Tenggiling, “Tenggiling, Tenggiling, di mana kau? Mari, kita pulang.”
“Saya di sini, Tuanku,” terdengar suara jawaban dari dalam belukar. Linjo melompat ke dalam belukar, sangkanya Tenggiling sudah terjepit di
pohon lagi. Sampai di tempat Tenggiling, alangkah terkejutnya Linjo, karena yang dilihat bukannya Tenggiling. Seorang gadis yang sangat jelita, berada di hadapan Linjo sambil tersenyum, pakaiannya terbuat dari bahan sutra halus berwarna-warni.
Gadis itu duduk di sebatang pohon yang rebah, rambutnya tergerai di tanah sepanjang tujuh hasta, parasnya elok seperti belum pernah ditemui Linjo.

kaya: Kamu, bahasa penghormatan.

Selengkapnya: Petualangan Linjo Bagian 2 dan Kisah Lainnya