Sharing Session Inspiratif Vol. I, Motivasi Mahasiswa Kampus Mengajar dalam Pengabdian di Masyarakat

Jakarta, Kemendikbudristek – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) melalui pelaksana program Kampus Mengajar menggelar kegiatan saling berbagi yang berjudul Sharing Session Inspiratif Vol. I dengan tema “Berdaya dalam Keterbatasan.” Acara yang berlangsung pada hari Senin (29/8) ini mengundang seluruh penerima manfaat program Kampus Mengajar angkatan 4 yang terdiri dari mahasiswa, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), dan juga dosen yang bertugas sebagai koordinator Perguruan Tinggi (koordinator PT) untuk memotivasi mahasiswa saat mengabdi di masyarakat.

Dalam acara sharing session pertama ini, hadir Andi Imannuel Rumbrar, seorang guru yang sudah mengabdikan dirinya selama enam tahun untuk mengajar Suku Wano di daerah pedalaman Papua, tepatnya di Kampung Lumo, Distrik Lumo, Kabupaten Puncak Jaya.

Kurniawan, Analis Kebijakan Ahli Madya, Direktorat Sekolah Dasar yang hadir mewakili Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, memberikan apresiasi kepada seluruh mahasiswa peserta program Kampus Mengajar yang sudah bertugas selama satu bulan terakhir di masing-masing sekolah penugasan.

Dalam sambutannya, Kurniawan juga menyampaikan harapan agar kegiatan sharing session ini bisa menjadi motivasi bagi peserta program Kampus Mengajar untuk terus semangat dalam pengabdian. “Kegiatan sharing session pada hari ini diharapkan bisa menjadi katalisator untuk menyalurkan semangat pengabdian dari narasumber, sekaligus memberikan stimulus kepada adik-adik mahasiswa tentang bagaimana memberikan asistensi dalam proses pembelajaran kepada murid di sekolah sasaran,” ujarnya di Jakarta, Senin (29/8).

Senada dengan hal tersebut, Kepala Program Kampus Mengajar, Asri Aldila Putri, pada kesempatan yang sama juga menyampaikan bahwa kegiatan sharing session dari program Kampus Mengajar yang menghadirkan narasumber inspiratif dapat menjadi motivasi untuk terus menjaga semangat pengabdian bagi mahasiswa peserta Kampus Mengajar angkatan 4 yang kini sudah memasuki minggu kelima masa penugasan.

Asri juga berharap kegiatan sharing session bisa menjadi momen bagi mahasiswa untuk saling berbagi cerita dan berbagi pengalamannya dengan berinteraksi langsung dengan para praktisi pendidikan, para pejuang pendidikan Indonesia.

“Pada kegiatan hari ini, kita harus mengingat kembali tujuan teman-teman mahasiswa ketika bergabung di Kampus Mengajar. Salah satunya adalah menjadi bagian dari agen perubahan untuk pendidikan Indonesia yang lebih baik. Pemerataan pendidikan bisa kita bantu dengan berkontribusi melalui program Kampus Mengajar,” tuturnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan paparan dari Andi Rumbrar yang menceritakan pengalamannya dalam mengabdi untuk memperkenalkan pendidikan Indonesia bagi Suku Wano, sebuah suku asli Papua yang tinggal di daerah pedalaman Kabupaten Puncak Jaya.

Dengan lokasi yang sangat terpencil, desa kecil itu hanya dapat dijangkau dengan pesawat terbang berkapasitas kecil dengan rute yang hanya setiap enam bulan sekali. Tidak ada jalan aspal yang menjangkau desa itu, sehingga jelas Suku Wano belum banyak terjamah oleh modernisasi. Namun meskipun berada jauh di pedalaman, anak-anak Suku Wano memiliki semangat yang sangat tinggi untuk belajar.

“Setiap anak, berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Meskipun mereka tinggal di daerah terpencil, meskipun mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Anak-anak Suku Wano berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik. Oleh sebab itu, saya mengabdikan diri untuk tinggal dan mengajar di sini,” papar Andi.

Selanjutnya, Andi juga membagikan pengalamannya dalam menerapkan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan disukai oleh para murid meskipun dengan keterbatasan sarana dan prasarana sekolah. “Pada saat yang bersamaan, keterbatasan ini justru mendorong anak-anak untuk berpikir melampaui batas kreativitas yang bisa kita bayangkan,” katanya.

“Pada banyak kesempatan, justru saya yang banyak belajar berinovasi dari para murid karena mereka selalu menemukan jalan keluar dari keterbatasan yang mereka alami. Jika tidak punya buku, kami akan belajar di alam dan mereka akan menulis di atas batu atau tanah yang menjadi bukti semangat tinggi mereka dalam menuntut ilmu,” lanjut Andi bercerita.

Pada sesi interaksi dengan peserta, Andi membagikan kiat-kiat yang bisa diterapkan oleh mahasiswa peserta program Kampus Mengajar ketika bertugas melaksanakan pengabdian di tempat baru. Menurutnya, kunci penting dalam pengabdian adalah kerendahan hati dan sikap untuk selalu menghormati budaya setempat.

“Hal paling dasar yang perlu setiap pengabdi pendidikan miliki adalah hati yang selalu ingin belajar. Meruntuhkan ego sebagai mahasiswa memang bukan hal yang mudah, tapi sebagai pengabdi kita harus mau untuk terus belajar hal baru sehingga mampu berbaur dengan masyarakat sekitar dan mendapat kepercayaan mereka,” tuturnya.

Kegiatan sharing session program Kampus Mengajar diselenggarakan dalam rangka membangun motivasi dan semangat kepada peserta program Kampus Mengajar angkatan 4 yang saat ini tengah bertugas. Mahasiswa bertugas untuk memberikan asistensi kepada guru dan tenaga kependidikan di sekolah sasaran, khususnya dalam upaya peningkatan kemampuan literasi dan numerasi siswa.

Program Kampus Mengajar sendiri merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Kemendikbudristek. Pada angkatan keempat yang saat ini tengah berlangsung, terdapat 14.408 mahasiswa yang ditugaskan ke 2.875 SD dan SMP yang tersebar di seluruh Indonesia. Masyarakat dapat mengakses informasi lebih lanjut terkait program Kampus Mengajar melalui Instagram Kampus Mengajar: @kampusmengajar; Laman MBKM Program Kampus Mengajar:https://kampusmerdeka.kemdikbud.go.id/program/mengajar; dan surat elektronik Kampus Mengajar, kampus.mengajar@kemdikbud.go.id.*** (Tim MBKM/Editor: Denty A.)