Waspada, Anak Makin Jauh dari Lingkungan!

SAHABAT KELUARGA – ”Kak, tolong antar kue ini ke rumah Bu Dini, ya.”

”Bu Dini yang rumahnya di Jalan Mawar ya, Bun? Eh, Jalan Kenanga, dekat masjid Al-Iman, kan?” Farid tersenyum.

Sudah cukup lama menetap, tetapi anak-anak tidak mengenal lingkungannya. Bahkan mereka tidak tahu siapa tetangga dua rumah dari rumahnya apalagi keadaannya, sementara mereka memahami betul kejadian di belahan bumi lain dan sebagainya.

Padahal salah satu pilar pendidikan menurut UNESCO adalah learning to live together, yakni belajar hidup bersama, dimana pendidikan di Indonesia diharapkan mampu mencetak generasi yang memiliki peran dalam lingkungan dimanapun berada, mampu menempatkan diri sesuai perannya. Memahami peran diri dan orang lain dalam bersosialisasi di masyarakat.

Kebiasaan hidup bersama dapat mengasah rasa saling menghargai, terbuka, memberi, dan menenerima. Kenyataannya, semakin ”lekat” seseorang dengan pendidikan justru semakin ”jauh” dari kebersamaan bermasyarakat dan menjadi pribadi yang individualistis. Tentu kita ingin anak-anak kita memiliki kualitas yang tidak hanya baik secara akademik tetapi juga memilki kualitas ’memerankan diri’ dalam kehidupan bermasyarakat seiring meingkatnya taraf pendidikan.

Sebagai orangtua, kita bisa menanamkan literasi lingkungan terhadap anak-anak melalui hal-hal sederhana.

Jadikan bertanya sebagai suatu kebiasaan saat anak pulang sekolah. Bukan hanya bertanya bagaimana mereka belajar atau pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah, tetapi tanyakan juga tentang lingkungan sekitar yang dilaluinya.

”Nak, pohon mangga di depan rumah Pak Hadi sudah berbuah belum? Nanti kita tanam juga yang seperti itu, kita tanya Pak Hadi bagaimana cara menanamnya” atau ”Halaman masjid Al-Ikhlas terlihat bersih, tidak?” Bisa juga, ”Toko Bu Sumi buka jam berapa, ya?”

Intinya buatlah pertanyaan yang jawabannya ada di sekitar mereka. Memancing rasa ingin tahu serta interaksi.

Ajak anak terlibat

Saat menjenguk tetangga yang sakit atau melahirkan, ajaklah mereka untuk ikut. Jika perlu libatkan mereka untuk menyumbang.

Libatkan dalam kegiatan kerja bakti lingkungan. Jika tidak memungkinkan membantu pekerjaan, ikutkan berpartisipasi dalam mengantar makanan atau minuman.

Andalkan berjalan kaki untuk menempuh jarak dekat. Selain mengurangi jejak karbon yang baik bagi lingkungan, dan kesehatan tubuh, berjalan kaki juga bisa memberi efek psikologis mempererat kedekatan dengan lingkungan.

Bertegursapalah dengan para tetangga. Beri stimulus anak untuk melakukan interaksi dengan lingkungannya. ”Ayo Nak, salim dengan Pak Indra” atau ”Lihat Nak, got ini kehitaman, bagaimana caranya agar terlihat bersih?” Bisa juga, ”Zaman mama kecil, banyak ikan yang hidup di dalam saluran air, bagaimana agar ikan-ikan bisa hidup lagi?” Atau, ”Sebelah kanan ini rumah Bu Ida, anak pertamanya Kak Lusia, hebat sekali matematikanya” dan lain sebagainya.

Berbagi

Berbagi bukan hanya soal makanan atau oleh-oleh dari luar kota. Jika anak kesulitan belajar, antarkan pada tetangga yang dianggap mampu dan mau membantunya. Begitu pula jika tetangga kita memerlukan bantuan dalam menyelesaikan tugas sekolah, misalnya mencari data, artikel dari koran, dan lainnya. Berbagilah untuk bisa menyelesaikan permsalahan para tetangga dengan tetap memberi ruang partisipasi anak-anak kita.

Literasi terhadap lingkungan menjadi hal yang penting ditanamkan pada anak-anak kita. Bukan hanya tugas guru, penegakkan pilar pendidikan learning to live together juga menjadi tugas orangtua. Literasi lingkungan memberikan pemahaman tentang peran diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar baik alam maupun sosial. Sehingga pada akhirnya pendidikan tidak hanya meningkatkan kualitas kemampuan intelektual dan profesional, tetapi juga peningkatan sikap, kepribadian, dan moral.(Sri Rahayu – Guru MI Al-Falah UM Jakarta)